Rabu, 17 September 2008

Ibânah Volt. 2

Oleh: Nur Fadlan

Ucapan Syukur; Bagian dari Kitab al-Ibânah

Imam Abu Hasan al-Asy'ari dalam pembukaan kitabnya 'al-Ibânah' megawali dengan ucapan syukur kehadirat Allah SWT. Puji syukur merupakan do'a yang paling mulia sehingga beliau senantiasa menulis ucapan syukur dalam pembukaan kitabnya.

Sedangkan Abu Amdû Muhamad bin Ali bin Raihân 'pentahkik kitab al-Ibânah' memberikan beberapa penjelasan tentang keutamaan rasa syukur terhadap Allah SWT. Beliau mengutib beberapa pertanyaan dari para sarjana Islam tentang konsep syukur terhadap Allah SWT. Diantaranya adalah seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitab al-Ikhtiyârât al-Fiqhiyah tentang al-Hamdalah. Dalam sebuah riwayat nabi Muhamad SAW senantiasa membuka khotbah hari dua hari raya (Idul Adha dan Idul Fitri) dengan bacaan al-Hamdalah.

Di samping itu, peneliti kitab al-Ibânah menyertakan juga tulisan-tulisan sarjana Islam kenamaan tentang al-Hamdalah. Adapun mereka adalah sebagai berikut; Imam Ibnu al-Qoyim dalam kitabnya Zâdu al-Muâd, Sheikh Shâlih bin Fauzân bin Abdullah al-Fauzân dalam kitab al-Aqîdah al-Wâsatiyah, Sheikh Hâfidz bin Ahmad Hakamî dalam kitabnya Maârij al-Qobûl.

Imam Muhamad bin Ali bin Raihân di samping memaparkan beberapa pendapat para sarjana Islm kenamaan, beliau juga menyertakan al-Hadist yang memiliki substansi yang sama, menjelaskan tentang al-Hamdalah. Adapun al-Hadist yang beliau ketengahkan adalah sebuah Hadist yang pernah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam an-Nasa'i, Imam Bukhori dan Sheikh Hasan al-Bânî. Hadist yang beliau ketengahkan adalah Hadist pada tingkatan Hadist Hasan.

Hadist riwayat Imam at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Habân, al-Hakim dan Sheikh Sheikh al-Bânî juga beliau ketengahkan. Hadist ini memjelaskan tentang al-Hamdalah. Di samping itu para Ahli Hadist mengelompokkan Hadist ini ke dalam klasifikasi Hadist Hasan.

Hadist terakhir yang beliau ketengahkan adalah Hadist riwayat Ibnu Majah dan Sheikh al-Bânî dalam kitabnya Shohîhu al-Jâmi'. Hadist ini juga termasuk Hadist yang tergolong dalam kategori Hadist Hasan.

Di penghujung pemaparan terhadap beberapa Hadist yang menjelaskan tentang al-Hamdalah, Imam Muhamad bin Ali bin Raihân mengkaji tentang ma'na al-Hamdu dan as-Syukru. Dua kata ini terdapat sedikit perdebatan; Apakah keduanya memiliki ma'na yang sama atau diantaranya memiliki ma'na yang berdiri sendiri. Pendapat pertama mengatakan tentang dua kalimah (kata) ini adalah bentuk dari persamaan. Pendapat ini diambil dari pemikiran Ibnu Jarir at-Thobarî (seorang penafsir) dan Ja'far as-Shôdiq.

Tentang pendapat yang kedua, menganggap dua kalimah ini adalah memiliki arti substansial yang berbeda. Pendapat ini diambil dari pemikiran Ibnu Taimiyah. Beliau berpendapat tentang perbedaan dua kalimah tersebut. Cetak biru dari inteprestasi dua kata itu adalah; al-Hamdu mengandung makna bentuk pujian kepada Sang Pencipta. Sedangkan as-Syukru memiliki arti bentuk terima kasih terhadap ni'mat Tuhan. Implementasi dari syukur ini bisa diwujudkan melalui hati, lisan dan perbuatan.

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa; al-hamdu adalah bentuk yang sering dilakukan oleh hati dan lihan. Sedangkan as-Syukru merupakan tindak lanjut dalam tataran praktis.

Tentang Ilustrasi Tuhan

Dalam aqidah Mu'tazilah menganggap Tuhan tidak berilustrasi. Kelompok Mu'tazilah sepakat kalau Allah itu satu tidak seperti alam yang fana. Dia adalah Maha Mendengar, Maha Melihat dan tidak memiliki komposisi tubuh. Dia tidak seperti setan dan tidak seperti mayit (bangkai) atau jasad renik. Dia tidak berilustrasi dan tidak memiliki daging dan darah.[1]

Sedangkan menurut Ahlu Sunnah wa al-Jamâat menyatakan pendapatnya yang berbeda dengan kelompok Mu'tazilah. Mereka mempercayai ilustrasi tentang Allah SWT. Tentunya ilustrasi yang dimiliki Allah merupakan ilustrasi yang sempurna yang tidak ada padanannya.

Sheikh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya al-Aqidah al-Wâsatiyah mengatakan; Barang siapa yang iman kepada Allah tentunya harus iman pada sifat-sifat-Nya yang telah dijelaskan dalam kitab-Nya yang agung.

Kelompok Ahlus Sunnah mengambil dalil aqli yang menguatkan tentang konsep Ilustrasi Allah SWT. Tentang dalil aqli yang mereka ketengahkan sebagai penguat tentang Ilustrasi atas Allah adalah; Hadist riwayat Imam Ahmad, Imam Tirmidzî dan Sheikh al-Bânî. Adapun Nash Hadistnya sebagai berikut; "telah mendatangiku Tuhanku pada sebuah malam dengan sebaik-baik bentuk (ilustrasi)".

Di samping Hadist di atas, kelompok Ahlus Sunnah juga menegang Hadist seirama yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dan Imam Muslim tentang konsep ilustrasi Allah SWT.

Dalam Surat al-A'raf ayat 11, Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: 'Bersujudlah kamu kepada Adam', maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud."

Dari ayat ini, Sheikh bin Usaimîn mengatakan bahwa; ilustrasi atas Allah itu tidak ada. Yang memiliki ilustrasi bentuk hanyalah mahluknya, termasuk manusia.[2] walaupun alih-alih dalam salah satu Hadist pernah mengatakan kalau ilustrasi Allah itu ada. Dan bentuknya tentunya lebih sempurna dari pada ilustrasi mahluknya, manusia. Beliau merasa seandainya Allah memiliki ilustrasi yang paling baink, kenapa dalam salam salah satu ayat-Nya, Dia berfirman dalam Surat at-Tiin ayat 4; "sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."

Dari ayat ini kita bisa menarik benang merah kalau Allah SWT tidak memiliki ilustrasi. Kalaupun Dia memiliki ilustrasi kenapa berfirman dalam salah satu ayat al-Qur'an tentang bentuk ilustrasi manusia adalah sebaik-baik bentuk. Bukannya bentuk ilustrasi terbaik itu hanya milik-Nya. Kalau demikian berarti kita dapat menarik konklusi kalau Allah tidak memiliki ilustrasi. Dua ayat di atas telah menjelaskan secara tersurat tidak adanya ilustrasi Allah SWT. Allah SWT tidak seperti apapun. Dia tidak ada padanannya dan berdiri sendiri.

Dalam penjelasan Imam ad-Dzahabî dalam kontek ilustrasi atas Tuhan; sebenarnya Hadist tentang ilustrasi Allah adalah atas Allahlah yang mengetahui bentuknya. Dalam hal ini Rosulullah SAW lebih memilih diam ketika perbincangan masalah ini diangkat. Hal yang sama 'memilih diam' juga digunakan oleh generasi salaf.[3]

Menurut beliau, dalam kontek Hadist tentang ilustrasi Allah ada titik tertentu yang belum dipahami oleh para pengkajinya secara siklikat. Adapun nasul Hadisnya adalah sebagai beriku; "Ala Shouratihi".[4] Pandangan beliau tentang Hadist ini adalah ada dzomir (kata ganti) setelah kata Shouratihi. Menurut pandangannya dzomir ini kembalinya bukan kepada Allah tapi kembali pada manusia dan mengsifatinya. Pandangan ini menurut mayoritat pemikir Islam adalah pandangan paling rajih (dipakai secara mayoritas).

Pandangan Ibnu Khutaibah tentang konsep ilustrasi Tuhan. Beliau mengklasifikasikan pandangan-pandangan tentang konsep ini menjadi beberapa bagian. Pertama, menurut para ahli Ilmu Kalam (Theologi). Mereka berpendapat; sesungguhnya Allah menciptakan manusia dengan ilustrasinya dan hewan dengan ilustrasinya.

Pendapat lain menolak tentang ilustrasi manusia disamakan dengan ilustrasi Tuhan dengan dalih manusia adalah mahluk-Nya yang paling bagus bangun rancang anatominya. Pandangan semacam ini dianggap mengimpang dari dasar-dasar Ilmu Kalam karena Allah tidak sama dngan mahluk-Nya.[5]

Di salah satu Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dari Nabi Muhamad SAW mengatakan, "Sesungguhnya Allah SWT menciptakan Adam atas ilustrasi-Nya".

Dari Hadist ini kita bisa tahu kalau sebenarnya ilustrasi Adam adalah bentuk ilustrasi Allah atas Dirinya. Tetapi setelah Hadist ini di teliti dengan sanagt teliti ternyata Hadist ini termasuk Hadist Dzoif. Jadi golongan yang memiliki pandangan Allah tidak mimiliki ilustrasi menjadi semakin kuat pandangannya, kerena ternyata salah satu dalil nakli yang berpandangan bahwa Allah memiliki ilustrasi ternyata hujjahnya dzo'if.[6]

Di sini, pandangan Imam Abu Hasan al-Asy'ari tentang konsep ilustrasi Allah SWT adalah menetapkan adanya ilustrasi Tuhan. Imam al-Asy'ari menggunakan aqidah Imam Ahmad bin Hambal dan Ahlu Sunnah meyakini adanya ilustrasi pada Tuhan yang tidak sama dengan bentuk ilustrasi mahluknya, manusia.

Dalam penjelasan Abi Abdillah bin Abdul al-Aziz at-Tamîmi mengatakan; menurut madzhab Abi Abdullah Ahmad bin Hambal bahwa Allah SWT memiliki ilustrasi. Ilustrasi-Nya tentunya tidak sama dengan ilustrasi yang dimiliki mahluk-Nya, termasuk manusia.[7] Pandangan ini tentunya berdasarkan pada salah satu sifat yang dimiliki Allah, yaitu Laisa Kamislihi Syaiun.

BAB I

Para Pengimpang dan Para Pengusung Bid'ah Theologi

Mu'tazilah dan Qodariyah

Mu'tazilah menurut pandangan orang-orang Islam terjadi perbedaan. Apakah dia termasuk orang iman atau kafir. Di antara kaum muslimin ada yang mengatakan bahwa mereka adalah masih dalam kelompok mereka sedangkan yang lainnya ada yang mengatakan bahwa mereka adalah termasuk orang yang kafir. Dua digma ini, masih dalam perdebatan yang sangat panjang.

Dalam salah satu riwayat, munculnya faham ini adalah akibat pemisahan Wâsil bin Athâ' Majlisu al-Hasan al-Basrî. Madzhab Mu'tazilah menolak adanya sifat-sifat Allah SWT dan menolak syafa'at Nabi Muhamad SAW kepada para pembesar Islam.[8]

Dalam tulisan DR. Ahmad Said Hamdan memaparkan tentang al-Qodariyah. Beliau menjelaskan al-Qodariyah adalah nama dari sempalan kelompok Ahlu Sunnah yang meyakini perbuatannya sebagai otoritas bukan atas kehendak Allah. Dalam satu kelompok faham ini dianggap sebagai kaum Majusi atau penganut polytheisme (banyak Tuhan) karena menganggap Tuhan sebagai fariasi saja mengingat digma mereka tentang otoritas mereka yang tanpa batas.

Di dalam salah satu Hadist Nabi pernah menyebutkan bahwa kelompok al-Qodariyah dan yang memiliki faham seirama dengan kelompok ini adalah sesat.[9] Di samping Hadist ini, ada juga perdebatan antara para sahabat tentang Qodariyah. Sahabat Abdullah bin Umar bin al-Ash mengatakan; sesungguhnya Rosulullah pernah melarang kepada kita semua untuk menjahui kelompok Qodariyah.[10] Hadist-Hadist tentang Qodariyah tidak muncul lagi hingga pada pertengahan abat pertama hijriyah akibat berbagai sebab.

Dalam riwayat Imam Muslim dari Yahya bin Ya'mar bahwa; awal dari perbincangan tentan faham Qodariyah adalah bermula dari Mu'bad al-Jahnî di Basrah. Di samping itu pendapat al-Auzâî mengatakan; awal dari pengangkaatan perbincangan tentang faham Qodariyah adalah berakar dari salah satu ahli Irak 'Suusan'. Nama ini menimbulkan perbedaan juga, ada yang mengatakan nama ini adalah berasal dari Majusi ada juga yang mengatakan lain.[11] Diriwayatkan juga bahwa Suusan masuk Islam kemudian mengalami pemahaman yang salah.

Dua hal yang sangat substansial tentang bid'ah yang diusung oleh kelompok Qodariyah adalah; pertama, mengingkari Allah adalah dulu. Kaum Qodariyah berpandangan bahwa Allah adalah baru. Kedua, sesungguhnya hamba Tuhan itu mempunyai otoritas mulak untuk merubah nasibnya sendiri, bukan atas kehendak Allah.

Menurut Ibnu Hajar dari Imam al-Qurtubi bahwa kelompok Qodariyah itu menganggap dirinya (hamba) memiliki otoritas tanpa batas untuk merubah keadaan mereka sendiri. Pandangan ini tentunya sangat bertentangan dengan pendapat kelompok salaf, mereka memiliki pemikiran yang tetap Allah yang akan merubah nasib mereka tapi kita dikasih pilihan untuk merubahnya.

Tentang Ta'wil

Imam Ibnu Taimiyah memberi arti ta'wil dengan tiga makna. Pertama, tidak ada yang mengetahui makna ta'wil selain Allah SWT. Pendapat ini adalah pendapat Imam empat. Kedua, ta'wil adalah tafsirul kalam. Pendapat ini dipakai oleh para mufasir, tentunya siapa yang berhak menafsiri adalah seseorang yang sudah memiliki kriteria sebagai mufasir. Makna yang ketiga, sesungguhnya ta'wil adalah benar adanya.

Tentang ta'wil sifat Allah adalah benar karena sudah dijelaskan dalam kitab-Nya secara tersurat. Tentang Istawa, tentunya yang mengetahui secara pasti adalah Allah. Terkadang kemampuan manusia tidak mampu untuk memahami alam apalagi kata-kata Allah.

Adapun tentang tafsir al-Qur'an menurut Ibnu Abas memiliki empat pandangan. Pertama, tafsir yang difahami oleh orang-orang Arab. Kedua tafsir yang tidak berdasarkan pada salah satu ilmu yang harus ada padanya. Ketiga, yang mengetahui khaliyah tentang tafsir hanyalah para ulama'. Keempat, tafsir yang tidak diketahui ma'nanya kecuali Allah.

Ada juga yang memberi analog tentang ta'wil al-Qur'an diumpamakan seperti pengetahaun tentang hari akhir (yaumul al-qiyamah). Pandangan ini menganggap bahwa yang mengetahui tentang ta'wil hanyalah Allah SWT seperti halnya pengetahuan tentang hari kiamat.

Dalam sebuah riwayat Abu Abdur Rahman as-Salami mengatakan; Ustman bin Affan dan Abdullah bin Mas'ud ketika masih belajar al-Qur'an kepada Rosulullah SAW, Rasulullah hanya mengajarinya sepuluh ayat saja setiap kali pertemuan. Ini adalah bentuk upaya dari kehati-hatian Rosulullah SAW. Tentunya upaya seperti ini bertujuan untuk menghindari kesalah pahaman dalam memberi tafsir atau ta'wil kepada al-Qur'an.

Demikian halnya dengan penuturan as-Sya'bi. Beliau berpendapat tentan khaliyah tafsir atau ta'wil al-Qur'an. Pendapat yang beliau ketengahkan adalah tidak adanya penafsiran dalam al-Qur'an. Penafsiran atau bentuk ta'wil merupakan bentuk bid'ah karena sebenarnya al-Qur'an sudah menjelaskannya atau penjelasan nabi yang tersurat lewat Hadist-Hadistnya.

Pernyataan ini tentunya memiliki perbedaan pandangan pada kelompok yang membenarkan bentuk tafsir atau upaya penta'wilan. Pentahkik (peneliti) kitab ini sepertinya lebih condong pada pendapat yang tidak memperbolehkan bentuk ta'wi l terhadap al-Qur'an. Beliau sepertinya lebih menyetujui pandangan pandangan bahwa yang mengetahui makna al-Qur'an itu hanya Allah SWT.

Beliau juga memaparkan tentang pandangan orang-orang yang menganggap keliru pandangan kelompok Aqliyah (rasionalis). Kelompok ini dianggap sebagai kelompok yang suka memberi pentakwilan-pentakwilan atas al-Qur'an. Beliau juga memaparkan tentan bentuk pentakwilan kelompok Aqliyah; pentakwilan mereka adalah fasid (salah dan menyimpang). Bentuk penta'wian yang salah bagaikan orang atheis yang memberikan ta'wil yang menyimpang dari ajaran yang sebenarnya sudah ada.

Pendapat Murji'ah dan Mu'tazilah Tentang ar-Ru'yah

Kelompok Murji'ah berbeda pendapat tentang ar-Ru'yah. Perbedaan ini bisa kita kelompokkan dalan dua klasifikasi besar yang diantaranya adalah sebagai berikut; pertama, kelompok ini mengatakan bahwa tidak ada bentuk melihat Allah dengan mata kepala seorang hamba. Pendapat kedua mengatakan; Sesungguhnya Allah bisa dilihat dengan mata kepala di akherat kelak.[12]

Kelompok Mu'tazilah sepakat bahwa; Allah Maha Mendengar, Maha Melihat serta tidak memiliki ilustrasi. Sehingga mereka menakik benang merah, kalau Allah SWT tidak bisa dilihat kerena Dia tidak memiliki jisim (ilustasi). Mata kepala manusia ataupun mahluk lainnya tidak memiliki kemampuan untuk melihat-Nya karena dzat-Nya yang tidak dapat dilukiskan dengan logika sederhaana manusia.[13]

Di samping itu, kelompok Mu'tazilah juga sepakat tentang Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala manusia. Tapi dari sini mereka berbeda pendapat tentang; Apakah Allah mampu dilihat dengan hati. Dalam studi kasus ini, Abu al-Hadzîl mengatakan; mayoritas kelompok Mu'tazilah memiliki pandangan kalau Allah mampu dilihat dengan mata hati merekal. Upaya ini adalah bentuk untuk mengetahui Allah SWT. Kelompok lain dari Mu'tailah ternyata tidak sependapat dengan pendapat mayoritas klompok ini. Tentang pendapat kelompok Mu'tazilah yang memiliki pandadangan bahwa Allah tidak dapat dilihat baik dengan mata maupun dengan hati; diusung oleh Hisyam al-Fauthî dan Ibâd bin Sulaiman.[14]



[1] Imam Abu Hasan al-Asy'ari, Maqôlât al-Islâmiyîn, jus I dalam sub judul Qoul al-Mu'tazilah fi Tauhid wa Ghoiri, hal. 235.

[2] Sheikh bin Usaimin, Sharah al-Wâsatiyah, hal. 69

[3] Imam ad-Dzahabi, al-Mîyân, juz II, hal. 420

[4] Hadist ini diriwayatkan oleh; Imam Bukhori (6227), Imam Muslim (2841), Imam Ahmad Juz II (315) dari Abu Hurairah.

[5] Ibnu Khutaibah, Ta'wil Muhtaliful Hadist, hal. 197-199

[6] Hadist "Ala Shaurati Rahman" ini dianggap dzo'if oleh Sheikh al-Bânî (1176).

[7] Abdul Wahid bin Abdul al-Aziz at-Tamîmî, I'tiqâd al-Imam Ahmad, hal. 5

[8] Lihat al-Burhan fî Aqôid Ahli al-Adyân, hal. 26-27, Maqolât al-Islamiyin, Juz I, hal. 335, al-Milal wa an-Nihal li Syahri Sanâti, juz I, hal. 45, I'tiqodât farqu al-Muslimin wa al-Musyrikin, hal. 27

[9] Hadist riwayat Imam Muslim (19), Imam at-Tirmidzi (2157), Imam Ibnu Majah (83), Imam Ahmad, juz II, (444), (476) dan Imam Ibnu Jarir di dalam tafsir 28: 111, dengan sanad Abu Huraira.

[10] Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah (85), Khasanah al-Bânî dalam khasiyah al-Masyikâh (1:36), di riwayatkan juga oleh Ahmad dari jalan Khimad (6846) dan dari jalan Abi Muâwiyah (6668), serta dari jalan Anas bin Iyâd dari Abi Khâzam (6702).

[11] Ibnu Said, at-Thobaqot, juz VII, hal. 264

[12] Imam Abu Hasan al-Asy'ari, al-Maqôlât, juz I, hal. 233

[13] Idem, juz I, hal. 235

[14] Op cit, hal. Juz I, hal. 238

Tidak ada komentar: