• Analisa Kritis Isi Naskah Ibânah beserta Tahqîq-nya (hal. 15-20)
Dalam awal isi naskah, perilaku yang telah disunahkan menjadi pembahasan. Yaitu, mengucapkan atau menuliskan hamdalah dalam setiap awal pembicaraan. Hamdalah merupakan sunah nabi. Hal ini selain bisa dibuktikan lewat nas juga didukung perkataan-perkataan ulama. Di tambahan penjelasan, Imam Ibn Taimiyyah, Imam Ibn al-Qayyim, Dr. Fauzân dan lain-lain dihadirkan. Agaknya, editor kitab (Ibn Raihân) memperlihatkan unsur sektoralnya agak berlebihan, karena semuanya yang disebutkan pemuka mazhab Salaf. Tetapi, pada prinsipnya hal itu tidak menjadi masalah. Tokoh pertama menyimpulkan langsung hukumnya secara singkat, sedangkan tokoh kedua sedikit agak lebih ‘rumit’; dan orang ketiga kebagian ta’rîf-nya. Seterusnya, Syekh Hâfiz ibn Ahmad menyebutkan perincian dalil-dalil tentang hamdalah tersebut. Dari sini bisa ditegaskan bahwa memang hamdalah itu sebuah sunah yang tidak boleh diabaikan begitu saja-terutama dalam setiap pembukaan khutbah-, walaupun perbedaan ulama tetap menyertai seputar legalisasi hukum tersebut.
Hal menarik. Dalam soal takhrîj hadis, editor bisa dibilang membebek sepenuhnya kepada Syekh al-Albâni. Hadis-hadis diklaim hasan olehnya ketika Syekh al-Albâni bilang hasan –semuanya tiga hadis. Sekali lagi, ini memperkuat dugaan sektoralisme-nya.
Lebih lanjut, tentang perbedaan dua terma, “al-hamd” dan “asy-syukr”. Sebagian ulama ada yang menganggap keduanya adalah sinonim, sedangkan sebagian lain tidak. Imam Agung Ibn Taimiyyah Ra. menjelaskan secara gamblang tentang inti perbedaan dua lafaz tadi. Yang jelas, keduanya bisa saling menjadi lebih umum dan lebih khusus secara bersilangan.
Berikutnya, diskursus serius mulai dibahas. Apakah Allah Swt punya wajah? Sebelum lebih dalam lagi, sejak awal-awal perlu diingatkan penggalan kalimat langsungnya dari naskah Ibânah: “falaisat lahu shûratun tuqâl”. Kalimat inilah yang nantinya akan menggulirkan sebuah perdebatan. Lalu, untuk apa diingatkan? Tujuannya, supaya tercipta analisa yang lebih fair, dengan komparasi pengamatan dari editor, saya, dan bahkan dari para pembaca sendiri.
Imam Asy’ari memvonis kalangan Mu’tazilah telah sepenuhnya ingkar bahwa Allah Swt. punya wajah. Karena – menurut mereka – Allah Swt. mutlak berbeda dari makhluk-makhluk-Nya. Konsep dasar ini tetap dipegang teguh meskipun menerabas ‘pagar-pagar’ nas sharih. Sedangkan Ahlussunnah meyakini bahwa Allah Swt. punya wajah yang sejatinya berbeda dengan wajah-wajah ciptaan-Nya. Hal ini berdasarkan nas-nas yang jelas mengukuhkan wajah Allah Swt. tersebut. Walaupun begitu, harus diperhatikan untuk tidak keterlaluan dalam mengimani konsep ini. Bisa-bisa malah mengukuhkan figur tuhan yang ‘manusiawi’ seperti kaum Musyabbihah.
Jika boleh ditambahkan dalam diskusi ini, ada mazhab lain yang ikut nimbrung. Yaitu, Asyâ’irah, yang mencoba menakwilkan wajah tuhan tadi dengan penjelasan yang bisa dikompromikan. Mereka tidak menolak nas secara literal, tetapi juga tidak mendekati pemahaman zahir-tekstualis. Kaum Ahlussunnah – dalam hal ini orang-orang mazhab Salaf – tetap memusuhi mazhab yang disebutkan terakhir. Bagi mereka, takwil nas-nas tadi merupakan tindakan yang absurd. Hematnya, pendapat-pendapat yang bisa dikategorikan selamat adalah yang dari Ahlussunnah dan Asyâ’irah. Sedangkan mazhab Mu’tazilah dan Musyabbihah tidak bisa dijamin keabsahannya.
Nas-nas yang dimaksud jelas bisa diperhatikan bersama-sama. Satu hadis dilansir oleh saksi paling kredibel di bidang hadis nabi, Imam Bukhâri Ra. Lainnya ada hadis yang diekspos ramai-ramai oleh para periwayat kondang. Di antaranya, seperti hadis yang di dalamnya ada lafaz “fî ahsani shûrah” dan lain-lain. Fakta ini tidak mungkin bisa dipungkiri oleh siapapun. Makanya, salah kalau ada yang sampai berani tidak memandang substansi nas-nas tersebut, kayak Mu’tazilah. Salah juga kalau nas-nas tentang wajah Allah diartikan secara lugu dan dangkal sehingga masuk dalam tahap me-manusia-kan tuhan.
Syekh ‘Utsaimîn mencoba untuk menjelaskan duduk persoalan dengan pandangannya. Hal tersebut sah-sah saja. Kemudian Imam Zahabi juga ikut berkomentar. Hanya saja beliau memilih aman dengan tidak berani mengupas lebih jauh. Lalu, editor juga ikut-ikutan memberikan komentarnya. Lebih luas lagi, setelah Ibn Qutaibah menyebutkan perdebatan masa lalu soal ini. Lalu lalang pendapat tidak bisa dihindarkan lagi. Ditambah editor melengkapi dengan pendapat-pendapat lain yang dikumpulkannya sendiri. Kebanyakan adalah takwil dengan bermacam ragamnya, dari mulai yang tidak mengundang kontroversi sampai yang sifatnya nyeleneh.
Terakhir, editor sengaja menyimpulkan arah statemen Imam Asy’ari di atas dengan konsep yang sejalan mazhab Salaf. Yaitu, pengukuhan wajah Allah Swt. yang tetap berbeda dari sekian banyak makhluk-Nya. Ia menggunakan dalih kedekatan Imam Asy’ari dengan Imam Ahmad dalam hal teologis. Disempurnakan paradigma ini dengan klaim ‘Abdul Wâhid ibn ‘Abdul ‘Azîz at-Tamîmi bahwa Imam Ahmad juga mengukuhkan wajah Allah Swt. Singkatnya, Allah punya wajah dan tidak boleh ditakwil. Titik. Wallâhu a’lam. oleh Abdurrahman Samboo
Jumat, 12 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
maju terus SIT...!
tapi blog nya didandani ya...:P
Posting Komentar